Tampilkan postingan dengan label abdul majid khon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abdul majid khon. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

Paham Ingkar Sunah di Indonesia



PAHAM INGKAR SUNAH
DI INDONESIA
(Studi Tentang Pemikirannya)
Abdul Majid Khon [*]

Abstract :
            Paham Ingkar Sunah Indonesia timbul dari ketidak tahuannya tentang status Sunah dalam beragama dan tentang fungsi Sunah  terhadap al-Qur’an. Semangat belajar mereka hanya pada  al-Qur’an. Tetapi  sayangnya mereka sangat minim penguasaan ilmu-ilmu dasar untuk memahami al-Qur’an seperti bahasa Arab,  tata bahasa dan  sastranya, ilmu-ilmu Tafsir dan lain-lain. Mayoritas  ide-ide penolakan  Sunah ditransfer dari orientalis yang sengaja menghembuskan di dunia Islam untuk menyesatkan umat. Inti  pandangan mereka  bahwa dalam beragama  hanyalah al-Qur’an karena kesempurnaannya sedangkan Sunah atau hadis dipandang sebagai dongeng yang diciptakan oleh sebagian umat Islam belakangan. Mengikuti Hadis mimicu perpecahan umat yang  meneybabkan kelemahan dan kehancuran umat.  

Kata Kunci :  Islam Hanya al-Qur’an

Jumat, 24 Agustus 2012

shilaturrahim


SHILAT AL-RAHIM
DALAM MASYARAKAT MODERN

A.    Pengantar
Setiap hadir Hari Raya Lebaran `Id  al-Fithri kata “Shilat al-Rahim” banyak dibicarakan orang terutama umat Islam Indonesia,  sekalipun sesungguhnya Shilat al-Rahim tidak harus dilakukan secara musiman yakni pada hari-hari lebaran saja. Namun,  memang ada relevansi yang berkait yaitu melakukan kontak horizontal secara baik setelah mendapat pengampunan vertikal dengan Tuhan. Bagi sebagian mereka berlebaran  identik  dengan  shilat al-rahim dan halal bi halal  dalam arti yang sangat sederhana yaitu berkunjung dan minta maaf atas segala kesalahan. Kata “Lebaran” diambil dari kata “lebar” (bahasa Jawa) yang diartika “selesai.” Dalam kontek ini Lebaran berarti selesai melakukan puasa Ramadlan, maka hari itu  disebut  hari  “ifthâr” atau “fithri” yang berarti hari berbuka (tidak berpuasa).  Atau Lebaran diambil dari kata “lebar” (bahasa Indonesia) yang diartikan lebar antonim dari kata panjang, yang memiliki konotasi makna segala pintu terbuka lebar baik pintu rumah, pintu hati, dan pintu genggaman tangan. Pintu rumah terbuka lebar untuk para tamu pengunjung, pintu dada terbuka lebar untuk saling memberikan maaf atas segala kesalahan yang kemudian disebut juga  Halal bi Halal  (saling menghalalkan), dan pintu tangan menyegarkan kembali tali ukhuwah Islamiyah dengan berjabatan, memberkan  hadiah, dan santunan yang disebut dengan THR (Tunjangan Hari Raya).